Asosiasi Agribisnis Indonesia Gelar Webinar Bahas Disrupsi Corona dan Agribisnis Daerah

AAI Agribisnis di Daerah

Wabah pandemi Corona hingga kini telah berpengaruh pada semua sisi ekonomi. Agribisnis adalah salah satu yang terkena dampak pandemi ini. Sebenarnya bukan virus corona yang langsung memberikan dampaknya pada agribisnis, melainkan kebijakan-kebijakan turunan yang dihasilkan guna mengurangi penyebaran virus ini.  Di berbagai daerah, kemampuan agribisnis tentu perlu untuk dibahas mengenai kondisi saat ini dan upaya-upaya lanjutan yang perlu dilakukan jika pandemi ini telah usai. Kondisi tersebut telah mendorong Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar bertajuk “Disrupsi Corona dan Agribisnis Daerah”

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (20/05/20) tersebut menampilkan 3 narasumber utama yaitu : Ir. Glenn Pardede, MBA, Managing Director PT East West Seeds Indonesia, Dr. M. Hatta Jamil (Wakil Dekan Fakultas Pertaniasn Universitas Hasanudin Makassar) dan Dr. Hanung Ismono (Dosen Agribisnis, Universitas Lampung) yang dimoderatori oleh Utami Kartika Putri (Pemimpin Redaksi Majalah Trubus). Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Dr. Bayu Krisnamurthi sebagai Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia menjelaskan bahwa di tengah pandemi sektor agribisnis menjadi sektor yang menjadi korban sekaligus pahlawan. Sebagai korban karena beberapa komoditas agribisnis mengalami jumlah permintaan yang menurun dan  pemberhentian tenaga kerja. Sedangkan sebagai pahlawan yaitu karena agribisnis merupakan sektor yang berperan dalam penyediaan pangan, dilihat dari adanya petani yang masih bisa berproduksi dan penjual masih bisa berdagang di tengah kondisi pandemi ini

Sebagai pemateri pertama, Ir. Glenn Pardede, MBA menjelaskan bahwa pada sektor benih, dampak yang dirasakan ditengah pandemi ini tidak terlalu signifikan dimana produksi benih masih berjalan normal, masih dilakukan interaksi langsung antara petugas dan petani, namun ada perubahan kebiasaan dalam proses produksi seperti memakai masker dan menjaga jarak dan ada kekhawatiran jika ada pendatang baru. Sedangkan pada petani sayuran terdapat perubahan yaitu mulai menanam lebih dari satu komoditas, semakin aktif di online, petani mulai menjual langsung ke pengecer dan ke pasar lokal, serta semakin banyaknya pekerja baru menjadi petani.

Sementara itu, pemateri kedua, Dr. M. Hatta Jamil memaparkan bahwa Covid-19 telah berdampak pada seluruh sub-sistem agribisnis mulai dari subsistem hulu agribisnis, subsistem on-farm agribisnis, subsistem pemasaran agribisnis dan subsistem pendukung/kebijakan agribisnis. “ Dengan kondisi saat ini dibutuhkan sistem  Agribisnis yang diharapkan mampu mengembangkan agribisnis yang terintegrasi dan holistik melalui pengembangan  korporasi.” Tambahnya. Dia juga menjelaskan bahwa organisasi Profesi “AAI” harus mengambil peran nyata melakukan studi kemungkinan pengembangan agribisnis di daerah dalam bentuk korporasi atau perseroan terbatas yang professional, mengadvokasi pemerintah daerah dan membangun kerjasama dan berkolaborasi dengan pelaku agribinis di daerah.

Dr. Hanung Ismono sebagai pemateri terakhir mengungkapkan bahwa penerapan sistem agribisnis dalam pertanian di berbagai daerah khususnya Provinsi Lampung, belum sepenuhnya dilaksanakan secara utuh. “Banyak pejabat di pusat dan daerah, yang belum sepenuhnya memahami secara utuh tentang sistem agribisnis, karena banyak program pembangunan pertanian yang ditujukan untuk subsistem produksi” Jelasnya. Setelah pemaparan materi, diskusi dan sesi tanya jawab dengar narasumber pun diikuti dengan antusias oleh peserta webinar.

Di akhir webinar, Dr.Bayu Krisnamuthi menyampaikan beberapa poin closing statement khususnya kepada para anggota AAI diantaranya 1) melakukan advokasi dengan pemerintah daerah yaitu rantai pasok bahan pangan harus selalu dibuka 2) membantu petani untuk melaksanakan protokol aman Covid-19 3) menjadi perantara untuk membantu pelaku agribisnis khususnya petani di era digital ini 4) harus dibangun semangat positif serta dikembangkannya kreatifitas untuk menghadapi pandemi ini.