Lokakarya Pembentukan AAI

Lokakarya Pembentukan AAI

International Seminar on Agribusiness : Agribusiness and Economic Recovery

WhatsApp Image 2021-07-13 at 12.36.16 PM

Agribusiness concept found by Davis and Goldberg (1957) has been widely recognized among academician. The agribusiness theme has developed following the dynamicsin business environment and society. In recent years, agribusiness is not only recognized as the holistic agricultural system from upstream to downstream with the economic objectives, but also in achieving sustainable benefit. The sustainable agribusiness system aims to achieve equitable benefit for all the stakeholders. Agribusiness system, especially in developing economies, must be adaptive to recent technological advancement. For example, agricultural technology in upstream sub-sytem which can lead for farmers in producing high quality local seed, innovation which able for small farmers to produce high quality product with affordable cost, inclusive business model which involves small scale actors and good coordinated supply chain. In addition, agribusiness system in developing economies also can synergy with agribusiness system in the developed economies which has elaborate the principles of sustainability into their recent innovation and good coordination among the sub-system.

Currently the world faced the pandemic covid-19 which hit all sectors of the economy. Agricultural/agribusiness sector is considered to be the sector which can withstand the negative effect of the pandemic. In Indonesia, agriculture sector still enjoys a positive growth meanwhile other sectors suffer a negative one.

With the more complex and dynamicdevelopment, a place to share ideas and recent development in agribusiness especially related to the recent pandemic is needed. Department of Agribusiness, Faculty of Economics and Management, IPB University is planning to host an international seminar regarding Agribusiness and Economic Recovery.

The objective of the seminar is as follows:

  • Discussing the current issue in agribusiness in Indonesia and other countries
  • Discussing recent research contributing in agribusiness concept and knowledge
  • Discussing the role of agribusiness in the economic recovery after facing pandemic covid 19

Further information kindly visit https://aer.web.id

WEBINAR BEDAH BUKU – SUARA AGRIBISNIS: Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih

WhatsApp Image 2021-04-13 at 4.49.21 AMWhatsApp Image 2021-04-13 at 4.49.31 AM

Yth. Ibu/Bapak/Saudara/i

Anggota Asosiasi Agribisnis Indonesia

Melalui email ini kami sampaikan bahwa AGRINA bekerjasama dengan Departemen Agribisnis FEM IPB dan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) menyelenggarakan WEBINAR BEDAH BUKU – SUARA AGRIBISNIS: Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih dan LOMBA MENULIS ESSAY & REPORTASE.

Kegiatan Webinar Bedah Buku Suara Agribisnis: Kumpulan Pemikiran Bungaran Saragih akan dilaksanakan pada:

Hari       : Senin, 19 April 2021

Waktu   : 13.00 – 17.00 WIB

Tempat  : Zoom Cloud dan streaming di channel youtube agrinaTV

Link registrasi:  bit.ly/BedahBukuSuaraAgribisnis

Informasi terkait Webinar Buku dan Lomba menulis Essay & Reprtase dapat Bapak/Ibu lihat flyer terlampir.

Mohon berkenan Bapak dan Ibu menyebarluaskan informasi ini kepada jejaring dan mahasiswa/i di kampus Bapak dan Ibu masing-masing.

Demikian yang dapat disampaikan, terima kasih.

#AGRINA
#AGRIBISNISFEMIPB
#AsosiasiAgribisnisIndonesia

Sekretariat

Asosiasi Agribisnis Indonesia

Rapat Kerja AAI Tahun 2021

WhatsApp Image 2021-04-09 at 11.28.59 AM

Yth. Bapak/Ibu Pengurus dan Anggota AAI

Sehubungan dengan pengembangan kegiatan organisasi AAI Tahun 2021, kami mengundang Bapak dan Ibu pada kegiatan Rapat Kerja Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) secara daring, yang akan dilaksanakan pada  :

Hari : Sabtu/ 10 April 2021
Pukul : 09.00 – 11.00 WIB
Join Zoom Meeting : https://bit.ly/3dvq4i6 (Meeting ID : 878 1703 9322; Passcode : 719150)

Besar harapan kami Bapak dan Ibu Anggota AAI dapat berpartisipasi aktif dalam Rapat Kerja organisasi kita tersebut.

Atas perhatian Bapak dan Ibu, kami mengucapkan terima kasih

 

Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) Bersama Departemen Agribisnis IPB Gelar Webinar Bahas Kinerja Ekspor Agribisnis Selama Pandemi COvid-19 dan Strategi Pemulihannya

web-seminar-kinera-ekspor-agribisnis-indonesia-dalam-suasana-covid-19-dan-usaha-pemeliharaannya-event

Pandemi Virus Corona (Covid-19) tak hanya berdampak serius pada kesehatan masyarakat, namun juga mengancam pada stabilitas ekonomi khususnya kinerja ekspor produk agribisnis Indonesia. Kondisi tersebut telah mendorong Departemen Agribisnis IPB yang bekerja sama dengan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar untuk mengupas “Kinerja Ekspor Agribisnis Indonesia dalam  Suasana Covid-19 dan Usaha Pemulihannya”.

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (21/04/20) tersebut menampilkan 3 narasumber utama yaitu : Dr Kasan Muhri dari Kementerian Perdagangan RI, Adhi Lukman sebagai Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia) dan Dr Amzul Rifin sebagai Sekretaris Departemen Agribisnis FEM IPB yang dimoderatori oleh Dr Bayu Krisnamurthi sebagai Ketua Umum AAI. Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting dan youtube live streaming (http://bit.ly/youtubeagribisnisIPB)  ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Moderator Dr Bayu Krisnamurthi yang juga Ketua Umum AAI menjelaskan bahwa Pandemi Covid-19 ini telah memberikan shock pada perekonomian, selain masalah kesehatan yang sangat serius dan masih harus dihadapi, tetapi juga masalah lanjutan yang timbul akibat keterbatasan baik karena serangan wabahnya sendiri maupun respon pemerintah atas wabah itu. Salah satu yang terkena oleh dampak itu adalah perdagangan  internasional.

“Indonesia adalah negara yang mengandalkan agribisnis sebagai salah satu kekuatan utama dalam ekspornya seperti sawit dan diikuti produk-produk lainnya. Adanya wabah Covid-19 ini jelas telah memengaruhi dari sisi ekspor agribisnis nasionl” Ungkapnya.

Sebagai pemateri pertama, Dr Kasan Muhri dari Kementerian Perdagangan RI memaparkan mengenai perkembangan kinerja perdagangan agribisnis baik global maupun nasional sebelum dan selama pandemi  Covid-19, tantangan dan peluang ekspor agribisnis di masa pendemi covid-19 serta strategi pemulihannya.

“Negara produsen beberapa komoditas pokok mengalami penurunan ekspor sebagai akibat adanya pandemi ini. Beras dari Thailand, gandum, jagung dan kedelai dari Brazil telah menunjukkan tren penurunan volume ekspornya.” paparnya

“Sedangkan kinerja ekspor agribisnis nasional justru memiliki trend positif pada periode Jan-Feb 2020 sebesar 11.2 %. Dari struktur produk yang diekspor, hasil produk pertanian bernilai tambah mendominasi ekspor agribisnis. Ekspor beberapa produk Agribisnis yang mengalami peningkatan signifikan selama Jan-Feb 2020 tersebut antara lain adalah Cocoa Butter, CPO, Udang Kemasan, Pulp dan Udang Beku dimana AS, China dan India menjadi negara utama tujuan ekspor. Meski ekspor agribisnis ke China pada periode tersebut mengalami pertumbuhan negatif, namun beberapa produk khususnya seperti Sarang Walet mengalami peningkatan ekspor sebesar 180,0%. Hal tersebut karena produk ini dipercaya sangat bermanfaat bagi kesehatan.” Tambahnya

Dr Kasan juga menjelaskan bahwa adanya kebijakan di berbagai negara untuk mengantisipasi pandemi Covid-19 seperti berbagai pembatasan/lockdown yang diberlakukan di seluruh dunia telah menghambat ekspor agribisnis kita. Sehingga pemanfaatan forum kerjasama internasional seperti G20 dan relaksasi kebijakan ekspor menjadi strategi yang diterapkan untuk memulihkan kinerja ekspor agribisnis nasional.

Sementara itu, pemateri kedua, Adhi Lukman sebagai Ketua GAPMMI, menjelaskan khususnya terkait industri makanan dan minuman di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Industri makanan, minuman dan agribisnis adalah salah satu industri yang tetap diminta tetap berproduksi oleh Kementerian Perindustrian dan Pemeerintah untuk menjaga kesediaan stok dengan tetap mematuhi ketentuan-ketentuan dalam pencegahaan wahah ini.” Ungkapnya

“Kalau bicara mengenai ekspor dan impor tentu tidak lepas dengan yang namanya food supply chain dimana menurut FAO sudah semakin kompleks. Selain itu, dampak adanya Physical Distancing dan PSBB (Indonesia) telah mengakibatkan terganggunya supply chain baik domestik maupun pasar global.” Tambahnya

Sebagai pemateri ketiga, Dr Amzul Rifin yang juga Sekretaris Departemen Agribisnis FEM IPB menjelaskan dari sisi teori perdagangan dan kecenderungan harga komoditi agribisnis nasional.

“Dampak Covid-19 ini telah berakibat pada sisi supply dan demand ekspor. Di sisi supply ekspor, excess penawaran dalam negeri untuk diekspor berkurang karena permintaan dalam negeri meningkat sedangkan di sisi demand ekspor, Permintaan ekspor menurun karena berhentinya kegiatan produksi di negara tujuan ekspor .” Paparnya. Selain itu, Dr Amzul menjelaskan bahwa dari sisi harga, berdasarkan data World Bank tahun 2020, telah terjadi trend penurunan harga pada komoditi Cocoa, coffee Arabica, CPO, PKO, Karet pada periode antara Januari dan Maret 2020, dan masih diprediksi akan berlanjut pada april dan periode berikutnya.

Di sesi ke-2 dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi, antara lain pertanyaan dari Azizah mengenai kemungkinan hanya pelaku usaha besar saja yang diuntungkan dengan adanya Covid-19 ini, kemudian Adhi Lukman menjelaskan bahwa Covid-19 ini berbeda dengan krisis moneter 1998 dimana dampak wabah ini turut juga dirasakan oleh pelaku usaha besar  juga para UMKM. Kemudian, pertanyaan dari kolom komentar youtube mengenai jaminan Covid-19 ini tidak ada di produk makanan atau minuman. Adhi Lukman menjelaskan bahwa kemungkinan Covid-19 ini dapat bertahan pada produk makanan adalah kecil dimana ketika produk diangkut di container berada pada suhu sebesar 40-50 derajat celcius dan melalui pengawasan yang sangat ketat.

Acara ditutup oleh moderator dengan menuturkan bahwa saat ini sebenarnya kita sedang menghadapi 4 krisis, pertama, krisis Hubungan dagang antara negara besar dengan adanya Trade War 2. Krisis karena covid 19 sendiri, 3. Krisis minyak, dimana harga minyak yang turun akan menarik harga komoditas lainnya untuk turun 4. Krisis kepemimpinan dimana belum ada yang mensinergikan kebijakan negara-negara untuk menghadapi Covid-19, dan semoga tidak berlanjut ke krisis ke 5 yaitu Krisis pangan 6. Krisis social politik yang dampaknya menjadi skala besar.

Diskusikan Dampak Covid-19 pada Rantai Pasok Pertanian dan Pangan, Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) Bersama Departemen Agribisnis IPB Gelar Webinar

WhatsApp Image 2020-05-28 at 11.58.21 AM

Dampak pandemi Virus Corona (Covid-19) tak hanya berhenti pada masalah kesehatan masyarakat, namun juga telah mengancam rantai pasok pertanian dan pangan dalam rangka menjaga keamanan pangan. Kondisi tersebut telah mendorong Departemen Agribisnis IPB yang bekerja sama dengan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar Agribusiness Strategic Talk dengan topik “Covid -19 : Implication For Agriculture And Food Supply Chains

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (12/05/20) tersebut menampilkan 2 narasumber utama yaitu : Dr Ammar Abdul Aziz (Dosen Senior Agribisnis, The University of Queensland-Australia) dan Dr. Risti Permani (Dosen Senior Agribisnis, Deakin University-Australia) yang dimoderatori oleh Dr Suprehatin (Dosen Agribisnis, IPB University). Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Prof. Nunung Nuryartono sebagai Dekan FEM IPB University menjelaskan bahwa adanya kebijakan lock down untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 ini, telah mengakibatkan banyak negara mengalami gangguan pada sisi rantai pasok komoditas pertanian dan pangan. “FAO telah memperingkatkan semua negara mengenai adanya ancaman krisis pangan di masa mendatang dan berharap semua negara mempersiapkan diri guna menghadapi ancaman tersebut” Ungkapnya.

Sebagai pemateri pertama, Dr. Risti Permani memaparkan mengenai dampak yang diakibatkan Covid-19 telah dirasakan oleh seluruh pelaku rantai pasok pertanian, mulai dari supplier, produsen, pengolah hasil, distributor, retailer hingga konsumen. “Pada segmen konsumen dan retailer, dalam jangka pendek menyebabkan panic buying oleh konsumen, pada segmen distributor, tantangan logistic pada keterbatasan angkutan dan batasan mobilitas, pada segmen pengolah hasil, adanya kesulitan atas input bahan baku dan pada segmen produksi, terjadi kekurangan tenaga kerja dan input di lahan”, paparnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Dr Ammar Abdul Aziz menjelaskan bahwa Covid-19 telah berdampak pada semua orang, terutama yang rentan adalah petani kecil dan komunitas kecil terhadap ketersediaan, aksesibilitas dan keterjangkauan. “Penggunaan teknologi informasi komunikasi dan e-commerce; bantuan pemerintah atau subsidi; kemitraan partisipatif baik pemerintah maupun swasta dan Community Supported Agriculture (CSA) dengan membawa komunitas dan produsen kecil bersama, produksi berkelanjutan, membagi risiko produksi, distribusi yang terstruktur dan terjadwal menjadi langkah untuk mengatasi masalah tersebut.” Jelasnya.