Lokakarya Pembentukan AAI

Lokakarya Pembentukan AAI

Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) Bersama Departemen Agribisnis IPB Gelar Webinar Bahas Kinerja Ekspor Agribisnis Selama Pandemi COvid-19 dan Strategi Pemulihannya

web-seminar-kinera-ekspor-agribisnis-indonesia-dalam-suasana-covid-19-dan-usaha-pemeliharaannya-event

Pandemi Virus Corona (Covid-19) tak hanya berdampak serius pada kesehatan masyarakat, namun juga mengancam pada stabilitas ekonomi khususnya kinerja ekspor produk agribisnis Indonesia. Kondisi tersebut telah mendorong Departemen Agribisnis IPB yang bekerja sama dengan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar untuk mengupas “Kinerja Ekspor Agribisnis Indonesia dalam  Suasana Covid-19 dan Usaha Pemulihannya”.

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (21/04/20) tersebut menampilkan 3 narasumber utama yaitu : Dr Kasan Muhri dari Kementerian Perdagangan RI, Adhi Lukman sebagai Ketua GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia) dan Dr Amzul Rifin sebagai Sekretaris Departemen Agribisnis FEM IPB yang dimoderatori oleh Dr Bayu Krisnamurthi sebagai Ketua Umum AAI. Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting dan youtube live streaming (http://bit.ly/youtubeagribisnisIPB)  ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Moderator Dr Bayu Krisnamurthi yang juga Ketua Umum AAI menjelaskan bahwa Pandemi Covid-19 ini telah memberikan shock pada perekonomian, selain masalah kesehatan yang sangat serius dan masih harus dihadapi, tetapi juga masalah lanjutan yang timbul akibat keterbatasan baik karena serangan wabahnya sendiri maupun respon pemerintah atas wabah itu. Salah satu yang terkena oleh dampak itu adalah perdagangan  internasional.

“Indonesia adalah negara yang mengandalkan agribisnis sebagai salah satu kekuatan utama dalam ekspornya seperti sawit dan diikuti produk-produk lainnya. Adanya wabah Covid-19 ini jelas telah memengaruhi dari sisi ekspor agribisnis nasionl” Ungkapnya.

Sebagai pemateri pertama, Dr Kasan Muhri dari Kementerian Perdagangan RI memaparkan mengenai perkembangan kinerja perdagangan agribisnis baik global maupun nasional sebelum dan selama pandemi  Covid-19, tantangan dan peluang ekspor agribisnis di masa pendemi covid-19 serta strategi pemulihannya.

“Negara produsen beberapa komoditas pokok mengalami penurunan ekspor sebagai akibat adanya pandemi ini. Beras dari Thailand, gandum, jagung dan kedelai dari Brazil telah menunjukkan tren penurunan volume ekspornya.” paparnya

“Sedangkan kinerja ekspor agribisnis nasional justru memiliki trend positif pada periode Jan-Feb 2020 sebesar 11.2 %. Dari struktur produk yang diekspor, hasil produk pertanian bernilai tambah mendominasi ekspor agribisnis. Ekspor beberapa produk Agribisnis yang mengalami peningkatan signifikan selama Jan-Feb 2020 tersebut antara lain adalah Cocoa Butter, CPO, Udang Kemasan, Pulp dan Udang Beku dimana AS, China dan India menjadi negara utama tujuan ekspor. Meski ekspor agribisnis ke China pada periode tersebut mengalami pertumbuhan negatif, namun beberapa produk khususnya seperti Sarang Walet mengalami peningkatan ekspor sebesar 180,0%. Hal tersebut karena produk ini dipercaya sangat bermanfaat bagi kesehatan.” Tambahnya

Dr Kasan juga menjelaskan bahwa adanya kebijakan di berbagai negara untuk mengantisipasi pandemi Covid-19 seperti berbagai pembatasan/lockdown yang diberlakukan di seluruh dunia telah menghambat ekspor agribisnis kita. Sehingga pemanfaatan forum kerjasama internasional seperti G20 dan relaksasi kebijakan ekspor menjadi strategi yang diterapkan untuk memulihkan kinerja ekspor agribisnis nasional.

Sementara itu, pemateri kedua, Adhi Lukman sebagai Ketua GAPMMI, menjelaskan khususnya terkait industri makanan dan minuman di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Industri makanan, minuman dan agribisnis adalah salah satu industri yang tetap diminta tetap berproduksi oleh Kementerian Perindustrian dan Pemeerintah untuk menjaga kesediaan stok dengan tetap mematuhi ketentuan-ketentuan dalam pencegahaan wahah ini.” Ungkapnya

“Kalau bicara mengenai ekspor dan impor tentu tidak lepas dengan yang namanya food supply chain dimana menurut FAO sudah semakin kompleks. Selain itu, dampak adanya Physical Distancing dan PSBB (Indonesia) telah mengakibatkan terganggunya supply chain baik domestik maupun pasar global.” Tambahnya

Sebagai pemateri ketiga, Dr Amzul Rifin yang juga Sekretaris Departemen Agribisnis FEM IPB menjelaskan dari sisi teori perdagangan dan kecenderungan harga komoditi agribisnis nasional.

“Dampak Covid-19 ini telah berakibat pada sisi supply dan demand ekspor. Di sisi supply ekspor, excess penawaran dalam negeri untuk diekspor berkurang karena permintaan dalam negeri meningkat sedangkan di sisi demand ekspor, Permintaan ekspor menurun karena berhentinya kegiatan produksi di negara tujuan ekspor .” Paparnya. Selain itu, Dr Amzul menjelaskan bahwa dari sisi harga, berdasarkan data World Bank tahun 2020, telah terjadi trend penurunan harga pada komoditi Cocoa, coffee Arabica, CPO, PKO, Karet pada periode antara Januari dan Maret 2020, dan masih diprediksi akan berlanjut pada april dan periode berikutnya.

Di sesi ke-2 dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi, antara lain pertanyaan dari Azizah mengenai kemungkinan hanya pelaku usaha besar saja yang diuntungkan dengan adanya Covid-19 ini, kemudian Adhi Lukman menjelaskan bahwa Covid-19 ini berbeda dengan krisis moneter 1998 dimana dampak wabah ini turut juga dirasakan oleh pelaku usaha besar  juga para UMKM. Kemudian, pertanyaan dari kolom komentar youtube mengenai jaminan Covid-19 ini tidak ada di produk makanan atau minuman. Adhi Lukman menjelaskan bahwa kemungkinan Covid-19 ini dapat bertahan pada produk makanan adalah kecil dimana ketika produk diangkut di container berada pada suhu sebesar 40-50 derajat celcius dan melalui pengawasan yang sangat ketat.

Acara ditutup oleh moderator dengan menuturkan bahwa saat ini sebenarnya kita sedang menghadapi 4 krisis, pertama, krisis Hubungan dagang antara negara besar dengan adanya Trade War 2. Krisis karena covid 19 sendiri, 3. Krisis minyak, dimana harga minyak yang turun akan menarik harga komoditas lainnya untuk turun 4. Krisis kepemimpinan dimana belum ada yang mensinergikan kebijakan negara-negara untuk menghadapi Covid-19, dan semoga tidak berlanjut ke krisis ke 5 yaitu Krisis pangan 6. Krisis social politik yang dampaknya menjadi skala besar.

Diskusikan Dampak Covid-19 pada Rantai Pasok Pertanian dan Pangan, Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) Bersama Departemen Agribisnis IPB Gelar Webinar

WhatsApp Image 2020-05-28 at 11.58.21 AM

Dampak pandemi Virus Corona (Covid-19) tak hanya berhenti pada masalah kesehatan masyarakat, namun juga telah mengancam rantai pasok pertanian dan pangan dalam rangka menjaga keamanan pangan. Kondisi tersebut telah mendorong Departemen Agribisnis IPB yang bekerja sama dengan Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar Agribusiness Strategic Talk dengan topik “Covid -19 : Implication For Agriculture And Food Supply Chains

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (12/05/20) tersebut menampilkan 2 narasumber utama yaitu : Dr Ammar Abdul Aziz (Dosen Senior Agribisnis, The University of Queensland-Australia) dan Dr. Risti Permani (Dosen Senior Agribisnis, Deakin University-Australia) yang dimoderatori oleh Dr Suprehatin (Dosen Agribisnis, IPB University). Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Prof. Nunung Nuryartono sebagai Dekan FEM IPB University menjelaskan bahwa adanya kebijakan lock down untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 ini, telah mengakibatkan banyak negara mengalami gangguan pada sisi rantai pasok komoditas pertanian dan pangan. “FAO telah memperingkatkan semua negara mengenai adanya ancaman krisis pangan di masa mendatang dan berharap semua negara mempersiapkan diri guna menghadapi ancaman tersebut” Ungkapnya.

Sebagai pemateri pertama, Dr. Risti Permani memaparkan mengenai dampak yang diakibatkan Covid-19 telah dirasakan oleh seluruh pelaku rantai pasok pertanian, mulai dari supplier, produsen, pengolah hasil, distributor, retailer hingga konsumen. “Pada segmen konsumen dan retailer, dalam jangka pendek menyebabkan panic buying oleh konsumen, pada segmen distributor, tantangan logistic pada keterbatasan angkutan dan batasan mobilitas, pada segmen pengolah hasil, adanya kesulitan atas input bahan baku dan pada segmen produksi, terjadi kekurangan tenaga kerja dan input di lahan”, paparnya.

Sementara itu, pemateri kedua, Dr Ammar Abdul Aziz menjelaskan bahwa Covid-19 telah berdampak pada semua orang, terutama yang rentan adalah petani kecil dan komunitas kecil terhadap ketersediaan, aksesibilitas dan keterjangkauan. “Penggunaan teknologi informasi komunikasi dan e-commerce; bantuan pemerintah atau subsidi; kemitraan partisipatif baik pemerintah maupun swasta dan Community Supported Agriculture (CSA) dengan membawa komunitas dan produsen kecil bersama, produksi berkelanjutan, membagi risiko produksi, distribusi yang terstruktur dan terjadwal menjadi langkah untuk mengatasi masalah tersebut.” Jelasnya.

Asosiasi Agribisnis Indonesia Gelar Webinar Bahas Disrupsi Corona dan Agribisnis Daerah

AAI Agribisnis di Daerah

Wabah pandemi Corona hingga kini telah berpengaruh pada semua sisi ekonomi. Agribisnis adalah salah satu yang terkena dampak pandemi ini. Sebenarnya bukan virus corona yang langsung memberikan dampaknya pada agribisnis, melainkan kebijakan-kebijakan turunan yang dihasilkan guna mengurangi penyebaran virus ini.  Di berbagai daerah, kemampuan agribisnis tentu perlu untuk dibahas mengenai kondisi saat ini dan upaya-upaya lanjutan yang perlu dilakukan jika pandemi ini telah usai. Kondisi tersebut telah mendorong Asosiasi Agribisnis Indonesia (AAI) untuk menggelar Web-Seminar bertajuk “Disrupsi Corona dan Agribisnis Daerah”

Web-Seminar yang berlangsung pada Selasa (20/05/20) tersebut menampilkan 3 narasumber utama yaitu : Ir. Glenn Pardede, MBA, Managing Director PT East West Seeds Indonesia, Dr. M. Hatta Jamil (Wakil Dekan Fakultas Pertaniasn Universitas Hasanudin Makassar) dan Dr. Hanung Ismono (Dosen Agribisnis, Universitas Lampung) yang dimoderatori oleh Utami Kartika Putri (Pemimpin Redaksi Majalah Trubus). Web-Seminar melalui aplikasi zoom meeting ini diikuti antusias oleh mahasiswa, para akademisi dari berbagai universitas/daerah maupun instansi dari pemerintah.

Dalam pembukaannya, Dr. Bayu Krisnamurthi sebagai Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Indonesia menjelaskan bahwa di tengah pandemi sektor agribisnis menjadi sektor yang menjadi korban sekaligus pahlawan. Sebagai korban karena beberapa komoditas agribisnis mengalami jumlah permintaan yang menurun dan  pemberhentian tenaga kerja. Sedangkan sebagai pahlawan yaitu karena agribisnis merupakan sektor yang berperan dalam penyediaan pangan, dilihat dari adanya petani yang masih bisa berproduksi dan penjual masih bisa berdagang di tengah kondisi pandemi ini

Sebagai pemateri pertama, Ir. Glenn Pardede, MBA menjelaskan bahwa pada sektor benih, dampak yang dirasakan ditengah pandemi ini tidak terlalu signifikan dimana produksi benih masih berjalan normal, masih dilakukan interaksi langsung antara petugas dan petani, namun ada perubahan kebiasaan dalam proses produksi seperti memakai masker dan menjaga jarak dan ada kekhawatiran jika ada pendatang baru. Sedangkan pada petani sayuran terdapat perubahan yaitu mulai menanam lebih dari satu komoditas, semakin aktif di online, petani mulai menjual langsung ke pengecer dan ke pasar lokal, serta semakin banyaknya pekerja baru menjadi petani.

Sementara itu, pemateri kedua, Dr. M. Hatta Jamil memaparkan bahwa Covid-19 telah berdampak pada seluruh sub-sistem agribisnis mulai dari subsistem hulu agribisnis, subsistem on-farm agribisnis, subsistem pemasaran agribisnis dan subsistem pendukung/kebijakan agribisnis. “ Dengan kondisi saat ini dibutuhkan sistem  Agribisnis yang diharapkan mampu mengembangkan agribisnis yang terintegrasi dan holistik melalui pengembangan  korporasi.” Tambahnya. Dia juga menjelaskan bahwa organisasi Profesi “AAI” harus mengambil peran nyata melakukan studi kemungkinan pengembangan agribisnis di daerah dalam bentuk korporasi atau perseroan terbatas yang professional, mengadvokasi pemerintah daerah dan membangun kerjasama dan berkolaborasi dengan pelaku agribinis di daerah.

Dr. Hanung Ismono sebagai pemateri terakhir mengungkapkan bahwa penerapan sistem agribisnis dalam pertanian di berbagai daerah khususnya Provinsi Lampung, belum sepenuhnya dilaksanakan secara utuh. “Banyak pejabat di pusat dan daerah, yang belum sepenuhnya memahami secara utuh tentang sistem agribisnis, karena banyak program pembangunan pertanian yang ditujukan untuk subsistem produksi” Jelasnya. Setelah pemaparan materi, diskusi dan sesi tanya jawab dengar narasumber pun diikuti dengan antusias oleh peserta webinar.

Di akhir webinar, Dr.Bayu Krisnamuthi menyampaikan beberapa poin closing statement khususnya kepada para anggota AAI diantaranya 1) melakukan advokasi dengan pemerintah daerah yaitu rantai pasok bahan pangan harus selalu dibuka 2) membantu petani untuk melaksanakan protokol aman Covid-19 3) menjadi perantara untuk membantu pelaku agribisnis khususnya petani di era digital ini 4) harus dibangun semangat positif serta dikembangkannya kreatifitas untuk menghadapi pandemi ini.

-“D I T U N D A”- KONFERENSI AGRIBISNIS INDONESIA 2020: Masa Depan Agribisnis yang Inklusif dan Berkelanjutan

ditunda

 

Berdasarkan imbauan Mendikbud RI
demi mencegah penyebaran Virus COVID-19
maka pelaksanaan konferensi kami TUNDA

 

 

KONFERENSI AGRIBISNIS INDONESIA 2020
“Masa Depan Agribisnis yang Inklusif dan Berkelanjutan”

Call for Papers and Posters!
Agribisnis Indonesia dan dunia dihadapkan pada tuntutan untuk berkontribusi mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs 2030), yang telah melewati batas-batas sosial politik antar Negara sebagai tujuan pembangunan bersama. Di sisi lain, agribisnis menghadapi masalah-masalah akibat perkembangan konversi lahan, kesenjangan pendapatan, keterbatasan tenaga kerja, pengaruh politik jangka pendek, koordinasi pertanian, industry dan jasa dan sebagainya.

Oleh karena itu perlu dilakukan pembahasan dan edukasi publik terkait “Peluang dan Tantangan menuju Agribisnis yang Inklusif dan Berkelanjutan pada tahun 2020 dan Selanjutnya”.

Mari berkontribusi bagi Agribisnis Indonesia melalui Paper dan Poster yang akan dipaparkan dan dipamerkan pada kegiatan KONFERENSI AGRIBISNIS INDONESIA 2020. Kegiatan diawali dengan keynote speech dari para ahli Agribisnis, baik dari dalam maupun luar negeri, parallel session untuk pemaparan paper dan pameran poster sepanjang acara. Dapatkan manfaat dari publikasi ilmiah baik berupa prosiding maupun jurnal ilmiah serta apresiasi untuk outstanding poster.

Link Download
– Logo KAI 2020
– Panduan Kompetisi Poster
– Pedoman Penulisan Naskah Paper
– Template Artikel Konferensi Agribisnis Indonesia 2020

Kesekretariatan
Departemen Agribisnis, FEM IPB
Jl. Kamper, Wing 4 Level 5 Kampus IPB Dramaga
Telp/Faks : 0251-8629654,
Email: kagribisnis@gmail.com

Contact Person
Triana Gita Dewi – 0852 1557 2141
Chairani Putri Pratiwi – 0812 9701 7758

Prosedur pendaftaran